30/04/11

Penanaman Kelapa


LAPORAN PRAKTIKUM
ILMU TANAMAN PERKEBUNAN (AGH 341)
PENANAMAN KELAPA








Disusun oleh: Kelompok B1
Niken Khusnul Tri Lestari      A24080041
Topan Prahara                         A24080066
Fendri Ahmad                         A24080138
Lorenta In Haryanto               H34080047
Listia Nur Isma                       H34080067

                       
DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kelapa (Cocos nucifera L.) merupakan tanaman perkebunan berupa pohon berbatang lurus dari family palmae. Tanaman ini merupakan tanaman serbaguna atau tanaman yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Seluruh bagian pohon kelapa dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia, sehingga pohon ini sering disebut pohon kehidupan (tree of life). Kelapa disebut juga sebagai tanaman Socio Tropical Crops karena hampir seluruh bagian dari pohon, akar, batang, daun, dan buahnya dapat dipergunakan unuk kebutuhan hidup manusia sehari-hari.
Produktivitas kelapa rakyat 0,5 – 1 ton kopra per hektar per tahun adalah rendah bila dibandingkan dengan kemampuannya untuk berproduksi sampai 2,0 ton kopra. Rendahnya produksi ini, disamping belum menggunakan bibit unggul dan kurangnya pemeliharaan juga disebabkan oleh umur tanaman yang telah tua dan lingkungan tumbuh yang tidak sesuai. Kondisi yang demikian mengakibatkan pendapatan petani kelapa sangat rendah.
Untuk meningkatkan produktivitas kelapa dan pendapatan petani, kelapa tua perlu diremajakan, kelapa yang relatif muda direhabilitasi. Penanaman baru atau perluasan harus mempertimbangkan kesesuaian lingkungan, dan meningkatkan nilai tambah dari produk yang dihasilkan tidak hanya kelapa butiran, kopra atau minyak akan tetapi aneka ragam produk yang berasal dari tanaman kelapa.

Tujuan
Kegiatan praktikum ini bertujuan agar mahasiswa dapat :
1.                  Menilai kriteria benih kelapa bermutu
2.                  Melaksanakan pembibitan pendahuluan (pre-nursery) di tanah
3.                  Menilai bibit kelapa yang siap salur
4.                  Menentukan lahan, kebutuhan tenaga kerja, dan waktu untuk pembibitan pendahuluan dan utama pada kelapa.
TINJAUAN PUSTAKA
Kelapa (Cocos nucifera) termasuk jenis tanaman palma yang mempunyai buah berukuran cukup besar. Macam nama atau sebutan kelapa di setiap daerah atau negara antara lain Coconut (Inggris), Cocotier (Perancis); Kelapa, Nyiur (Indonesia), Kambil, Kerambil, Klapa (Jawa). Batang pohon kelapa umumnya berdiri tegak dan tidak bercabang, dan dapat mencapai 10 - 14 meter lebih. Daunnya berpelepah, panjangnya dapat mencapai 3 - 4 meter lebih dengan sirip-sirip lidi yang menopang tiap helaian. Buahnya terbungkus dengan serabut dan batok yang cukup kuat sehingga untuk memperoleh buah kelapa harus dikuliti terlebih dahulu. Kelapa yang sudah besar dan subur dapat menghasilkan 2 - 10 buah kelapa setiap tangkainya (BPPT, IPTEK 2005).
Menurut Wibowo (2007) Kelapa (Cocos nucifera) termasuk familia Palmae dibagi tiga: (1) Kelapa dalam dengan varietas viridis (kelapa hijau), rubescens (kelapa merah), Macrocorpu (kelapa kelabu), Sakarina (kelapa manis, (2) Kelapa genjah dengan varietas Eburnea (kelapa gading), varietas regia (kelapa raja), pumila (kelapa puyuh), pretiosa (kelapa raja malabar), dan (3) Kelapa hibrida.
Kelapa banyak terdapat di negara-negara Asia dan Pasifik yang menghasilkan 5.276.000 ton (82%) produksi dunia dengan luas ± 8.875.000 ha (1984) yang meliputi 12 negara, sedangkan sisanya oleh negara di Afrika dan Amerika Selatan. Indonesia merupakan negara perkelapaan terluas (3.334.000 ha tahun 1990) yang tersebar di Riau, Jateng, Jabar, Jatim, Jambi, Aceh, Sumut, Sulut, NTT, Sulteng, Sulsel dan Maluku, tapi produksi dibawah Philipina (2.472.000 ton dengan areal 3.112.000 ha), yaitu sebesar 2.346.000 ton.
Sistem tanam yang baik yaitu sistem tanam segi tiga karena pemanfatan lahan dan pengambilan sinar matahari akan maksimal. Jarak tanam 9 x 9 x 9 meter, dengan pola ini jumlah tanaman akan lebih banyak 15% dari sistem bujur sangkar. Pembuatan lubang tanam dilakukan paling lambat 1-2 bulan sebelum penanaman untuk menghilangkan keasaman tanah, dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm sampai dengan 100 x 100 x 100 cm. Pembuatan lubang pada lahan miring (>20o) dilakukan dengan pembuatan teras individu selebar 1.25 m ke arah lereng diatasnya dan 1 m ke arah lereng di bawahnya. Teras dibuat miring 10 derajat ke arah dalam.
Penanaman dilakukan pada awal musim hujan, setelah hujan turun secara teratur dan cukup untuk membasahi tanah; waktu penanaman adalah pada bulan setelah curah hujan pada bulan sebelumnya mencapai 200 mm. Adapun cara penanaman adalah sebagai berikut:
1.      Top soil dicampur dengan pupuk phospat 300 gram per lubang dan dimasukkan ke lubang tanam.
2.      Polybag dipotong melingkar pada bagian bawah, dimasukkan ke lubang tanam, dan dibuat irisan sampai ke ujung, bekas polybag selanjutnya digantungkan pada ajir untuk meyakinkan bahwa polybag sudah dikeluarkan dari lubang tanam. Arah penanaman harus sama.
3.      Bibit ditimbuan tanah yang berada di sebelah selatan dan utara lubang, dipadatkan dengan ketebalajn 3-5 cm diatas sabut bibit kelapa.
4.      Kebutuhan bibit 1 ha, apabila jarak tanam 9 x 9x 9 m , segitiga sama sisi, adalah 143 batang dan bibit cadangan yang harus disediakan untuk sulaman 17 batang, sehingga jumlah bibit yang harus disediakan 160 batang.
Tanaman kelapa tumbuh pada berbagai jenis tanah seperti aluvial, laterit, vulkanis, berpasir, tanah liat, ataupun tanah berbatu, tetapi paling baik pada endapan aluvial. Kelapa dapat tumbuh subur pada pH 5-8, optimum pada pH 5.5-6,5. Pada tanah dengan pH diatas 7.5 dan tidak terdapat keseimbangan unsur hara, sering menunjukkan gejala-gejala defisiensi besi dan mangan.
Kelapa membutuhkan air tanah pada kondisi tersedia yaitu bila kandungan air tanah sama dengan laju evapotranspirasirasi atau bila persediaan air ditambah curah hujan selama 1 bulan lebih besar atau sama dengan potensi evapotranspirasi, maka air tanah cukup tersedia. Keseimbangan air tanah dipengaruhi oleh sifat fisik tanah terutama kandungan bahan organik dan keadaan penutup tanah. Jeluk atau kedalaman tanah yang dikehendaki minimal 80-100 cm.
Tanaman kelapa membutuhkan lahan yang datar (0-3%). Pada lahan yang tingkat kemiringannya tinggi (3-50%) harus dibuat teras untuk mencegah kerusakan tanah akibat erosi, mempertahankan kesuburan tanah dan memperbaiki tanah yang mengalami erasi (Hartoyo, 2010).
 Menurut Prabowo (2007) tabel kebutuhan pupuk tanaman kelapa adalah sebagai berikut:
Umur Tanaman
Dosis Pupuk (gr/pokok)
Urea
(TSP)
RP
KCl
Kies
Borak
 Saat tanam
-
-
-
-
-
-
1 bln setelah tanam
100
100
100
100
100
100
2 tahun






- aplikasi I
200
200
200
200
200
200
- aplikasi II
200
200
200
200
200
200
3 tahun






- aplikasi I
350
350
350
350
350
350
- aplikasi II
350
350
350
350
350
350
4 tahun






- aplikasi I
500
500
500
500
500
500
- aplikasi II
500
500
500
500
500
500
5 tahun






- aplikasi I
500
500
500
500
500
500


BAHAN DAN METODE
Bahan dan Alat
Alat :
  1. Cangkul (2 buah)
  2. Garpu (2 buah)
  3. Parang (1 buah)
  4. Ember (1 buah)
  5. Mal
Bahan:
  1. 2 bibit polybag kelapa
  2. Pupuk SP-36 150 gram

Metode
            Pertama-tama pilih terlebih dahulu bibit yang akan ditanam dengan ciri-ciri daunnya sudah pecah atau terbuka, tidak terserang hama dan penyakit serta bibit kuat dan kokoh. Setelah itu dibuat lubang tanam dengan ukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm, tanah yang berasal dari galian tersebut dipisahkan antara yang top soil dengan yang sub soil nya. Tanah top soil diletakkan di sebelah kanan lubang sedangkan tanah sub soil diletakkan pada kiri lubang. Kemudian lubang tersebut diukur dengan menggunakan mal.
 Selanjutnya letakkan pupuk di bagian bawah lalu ditimbun dengan tanah top soil. Setelah itu masukkan tanaman kelapa baru kemudian masukkan tanah sisanya (top soil dan sub soil). Untuk penimbunan lubang tanam sebaiknya dibuat agak cembung, hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya erosi tanah ketika hujan turun.

PEMBAHASAN
Hasil
Banyaknya tanaman kelapa yang ditanam kelompok kami adalah 2 tanaman.
Waktu pelaksanaan : 41 menit = 0,68 jam
Perhitungan HOK*  = 0,68 jam x 5 orang x 1 HOK/ 7 jam= 0,486 HOK
*catatan 1 HOK = 1 orang dengan 7 jam kerja

Pembahasan
Di Indonesia terdapat dua jenis varietas kelapa yaitu kelapa genjah (dwarf coconut) dan kelapa dalam (tall coconut).  Selain itu, dikenal jenis kelapa hibrida yang merupakan hasil persilangan kedua varietas tersebut. Pada praktikum ini jenis kelapa yang kelompok kami tanam adalah kelapa puyuh yang merupakan salah satu jenis dari kelapa genjah.
Perbanyakan tanaman secara konvensial harus mengunakan bahan tanam berupa benih yang baik karena akan menghasilkan buah yang baik juga. Benih tersebut dipilih dari pohon induk yang unggul menurut kondisi lapangan yang umum. Pohok induk yang digunakan sebagai benih, telah dipilih dengan sifat-sifat sebagai berikut: umur pohon 10-20 tahun, produksi tinggi (80-120 butir/pohon/tahun) terus menerus dengan kadar kopra tinggi (25 kg/pohon/tahun), batang kuat dan lurus dengan mahkota berbentuk spherical (berbentuk bola) atau semisperical, daun dan tangkainya kuat, serta bebas dari gangguan hama dan penyakit.
Pada saat akan ditanam, sebaiknya memilih bibit yang baik dari main nursery dengan ciri; bibit sehat dan cagur, pertumbuhan seragam dengan yang lain, tidak terserang penyakit, daun kuat dan tidak menguning, serta telah ada pelepah daun yang pecah.  Bibit polybag kelapa yang siap tanam (umumnya berumur 9-12 bulan) selanjutnya dipindahkan ke kebun untuk ditanam. Pengambilan bibit di main nursery sebaiknya dilakukan dengan cara diputar karena akar bibit dimungkinkan telah menembus tanah melalui lubang polybag. Penanaman ini sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan sehingga tanah cukup  lembab dan baik untuk petumbuhan tanaman kelapa. Hal-hal lain yang perlu diperhatikan sebelum penanaman bibit adalah jarak tanam yang akan digunakan, pembuatan lubang tanam, dan teknik pemindahan bibit ke lahan.
Tanaman kelapa memerlukan jarak tanam yang tepat, yaitu jarak tanam yang memungkinkan daun-daun dari dua tanaman kelapa dewasa yang tumbuh berdampingan tidak bersentuhan, serta jarak tanam yang cukup lebar. Jika jarak tanam yang dibuat terlalu sempit akan berakibat meningkatnya kelembaban, meningkatnya serangan cendawan, dan etiolasi.
Menurut sebuah penelitian,jarak tanam untuk kelapa genjah yang tepat adalah 7 m dan untuk tanaman kelapa dalam adalah 9 m. Para petani dapat menggunakan beberapa bentuk jarak tanam, antara lain segitiga samasisi, empat persegi panjang, dan bujur sangkar. Model segitiga samasisi adalah model yang paling banyak digunakan karena menghasilkan jumlah 15 % lebih banyak (penggunaan tanah yang lebih efisien) (www.docstoc.com) .
Pada praktikum model jarak tanam kelapa yang digunakan adalah segitiga samasisi. Selanjutnya dilakukan pembuatan lubang tanam. Sebenarnya pembuatan lubang tanam untuk tanaman kelapa dilakukan satu atau dua bulan sebelum bibit ditanam, dengan membuat lubang tepat ditengah-tengah ajir. Hal ini bertujuan agar mikroba yang terdapat di dalam tanah dapat terkena sinar matahari dan diharapkan akan terjadinya oksidasi pada tanah. Namun karena alasan waktu pada praktikum, penanaman dilakukan sesaat setelah lubang tanam selesai dibuat.
Dalam penanaman kelapa, lubang tanam yang dibuat berukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm. Ukuran lubang tanam tidak disarankan terlalu sempit karena akan menyebabkan ruang tumbuh akar menjadi terbatas dan pertumbuhan menjadi terganggu. Untuk menyesuaikan ukuran besar lubang tanam yang telah dibuat dapat digunakan alat ukur mal yang terbuat dari papan ataupun bambu. Pada penggalian,tanah permukaan yang digali merupakan bagian dari top soil sehingga perlu ditempatkan berbeda dengan bagian tanah subsoil dibawahnya. Kedua jenis tanah pada umumnya dapat dibedakan dari warnanya, karena topsoil berwarna lebih gelap.
Untuk penanaman kelapa digunakan pupuk Rock Phospate (RP) yang memiliki kandungan unsur fosfat cukup tinggi, jenis ini merupakan pupuk slow release. Pemberian pupuk rock phospate ini dilakukan pada awal atau selama musim hujan dengan dosis 300 gram per lubang tanam. Pada praktikum, kebutuhan tanaman akan phospate digantikan dengan mengaplikasian pupuk  SP-36 (mengandung 36% phospate) sebanyak 150 gram per lubang. Pemupukan dilakukan saat musim hujan bertujuan untuk menghindari terjadinya plasmolisis yaitu keluarnya cairan dari dalam tanaman kelapa.
Bibit polybag dimasukkan kedalam lubang, dengan ketentuan polibag telah dipotong melingkar pada bagian bawah, dan dibuat irisan sampai ke ujung. Polybag tidak dianjurkan untuk ditanam beserta kelapa, sehingga dilepaskan dari tanah bibit kelapa secara hati-hati untuk menghindari rusaknya akar. Kemudian lubang ditutup kembali dengan tanah galian, dengan ketentuan bahwa tanah yang menjadi bagian dasarnya merupakan tanah topsoil yang telah dicampurkan dengan pupuk. Tanah topsoil diletakkan terlebih dahulu pada dasar lubang karena dibanding dengan tanah subsoil, tanah tersebut memiliki kandungan hara yang sangat banyak sehingga baik untuk pertumbuhan tanaman. Penimbunan tidak dilakukan secara merata namun cembung pada bagian sentral tanaman agar air yang melewati tanaman tidak tergenang.
Menurut perhitungan, waktu yang diperlukan kelompok kami untuk pembuatan lubang tanam sekaligus penanaman kelapa dengan lima orang anggota kelompok adalah 41 menit atau  setara dengan 0,68 jam. Berdasarkan data tersebut dapat diperoleh HOK sebesar 0,486 HOK. Apabila 2 tanaman membutuhkan 0,486 HOK dengan 5 pekerja, maka untuk luasan satu hektar membutuhkan 34,32 HOK (jika populasi tanaman per hektar sebesar 143 tanaman).



PENUTUP
Kesimpulan
Bibit yang digunakan dalam penanaman sebaiknya bibit yang memiliki ciri-ciri bibit unggul agar kualitas dan produktivitas buah kelapa bisa didapatkan secara maksimal. Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum penanaman bibit adalah jarak tanam yang akan digunakan, pembuatan lubang tanam, dan teknik pemindahan bibit ke lahan. Jarak tanam kelapa menggunakan model samasisi. Ukuran lubang tanam kelapa dibuat secara tepat untuk memberikan ruang tumbuh pada kelapa dengan memperhatikan besaran ukuran yang dipakai yang biasa diukur dengan menggunakan mal. Sesuai data pelaksanaan, HOK yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan penanaman tanaman kelapa luasan satu hektar sebesar 34,32 HOK.

Saran
             Pada praktikum, lubang tanaman sebagai persiapan penanaman kelapa di lahan, tidak dibiarkan selama beberapa bulan sesuai panduan teknik penanaman kelapa. Hal ini memungkinkan organisme tanah pengganggu yang bisa merusak kualitas tanaman kelapa masih bertahan didalam tanah. Sebaiknya hal ini perlu menjadi pertimbangan dalam penanaman tanaman kelapa selanjutnya.








DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. Profil Investasi Biofuel dari Kelapa. http://www.docstoc.com/ [diakses tanggal 29 April 2011]
BPPT, IPTEK. 2005. Tanaman Obat Indonesia.
http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/ [diakses tanggal 28 April 2011]
Hartoyo, Dwi. 2010. Budidaya Kelapa. http://htysite.co.tv/budidaya kelapa.html [diakses tanggal 28 April 2011]
Prabowo, Abror Yudi. 2007. Budidaya Kelapa. http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-kelapa.html [diakses tanggal 28 April 2011]
Wibowo, Annas. 2007. Budidaya Kelapa.

18/04/11

Pemeliharaan TM kelapa


LAPORAN PRAKTIKUM
ILMU TANAMAN PERKEBUNAN (AGH 341)
PEMELIHARAAN TANAMAN MENGHASILKAN (TM) KELAPA







Disusun oleh:
Kelompok B1
Nama Anggota:
Niken Khusnul Tri L.              (A24080041)
Topan Prahara                         (A24080066)
Fendri Ahmad                         (A24080138)
Lorenta In Hartoyo                 (H34080047)
Listia Nur Isma                       (H34080067)


DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Menurut perkiraan beberapa ahli, kepulauan di Indonesia merupakan daerah asal kelapa. Tanaman ini telah lama dikenal dan dibudidayakan di seluruh kepulauan Indonesia. Kelapa di Indonesia dapat digolongkan sebagai komoditas strategi karena sekitar 98 persen dari lebih kurang 3,4 juta hektar kelapa diusahakan oleh petani. Disamping itu, banyak kebutuhan hidup penduduknya yang dipenuhi dari kelapa.
Pemeliharaan tanaman kelapa bertujuan untuk mengkondisikan tanaman agar sehat memiliki pertumbuhan yang normal dan mencapai tingkat prokduktivitas yang normal. Fase pemeliharaan tanaman tahunan digolongkan menjadi pemeliharaan tanaman belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM). Pada fase TBM, pemeliharaan kelapa diarahkan bagi pertumbuhan tanaman yang normal serta secepat mungkin memasuki fase TM. Pada fase TM, pemeliharaan kelapa diarahkan bagi pencapaian proktivitas yang optimal sesuai dengan potensi produksinya dan diusahakan agar memiliki umur ekonomi yang panjang. Kegiatan pemeliharaan tidak hanya dilakukan pada tanaman pokok kelapa melainkan juga pada sekitar tanaman kelapa atau gawangan.
Kegiatan pemeliharaan kelapa meliputi: pengendalian gulma, sanitasi tanaman, pemupukan, serta pengendalian hama dan penyakit. Kegiatan pengendalian gulma meliputi : pembentukan dan pemeliharaan bokoran atau kondisi W0 dan pemeliharaan gawangan atau kondisi W1 atau W2. Kegiatan sanitasi meliputi pembersihan kelapa dari pelepah tua dan tandan buah kering, serta mengumpulkan sisa-sisa tanaman dan sampah organic pada gawangan mati. Kegiatan pemupukan harus memperhatikan jenis pupuk, dosis pupuk, waktu memupuk, tempat, dan cara memupuk.

Tujuan
Kegiatan praktikum bertujuan agar mahasiswa dapat:
1.                            Melakukan pemeliharaan tanaman meliputi: sanitasi tanaman, pengendalian gulma bokoran dan gawangan serta pemupukan.
2.                            Menentukan kebutuhan tenaga kerja dan waktu untuk pemeliharaan kelapa.




TINJAUAN PUSTAKA
Kelapa (Cocos nucifera) adalah satu jenis tumbuhan dari suku aren-arenan atau Arecaceae dan adalah anggota tunggal dalam marga Cocos. Tumbuhan ini dimanfaatkan hampir semua bagiannya oleh manusia sehingga dianggap sebagai tumbuhan serba guna, khususnya bagi masyarakat pesisir. Kelapa juga adalah sebutan untuk buah yang dihasilkan tumbuhan ini (id.wikipedia.org).
Kelapa termasuk kedalam golongan Palmae sama dengan tanaman kelapa sawit, kurma, dan nipah. Secara sistematis klasifikasi tanaman kelapa sebagai berikut:
Divisi               : Spermatophyta
Sub divisi        : Angisospermae
Kelas               : Monocotyledonae
Ordo                : Spadiciflorae
Famili              : Palmae
Genus              : Cocos
Spesies            : Cocos nucifera L.
Pemeliharaan pada TM hampir sama dengan TBM, yaitu kegiatan penyiangan gulma dan pemupukan (dinulislami.blogspot.com, 2011). Menurut Sutarta et al. (2003), pemupukan yang baik mampu meningkatkan produksi hingga mencapai produktivitas yang standar sesuai dengan kelas kesesuaian lahannya. Menurut Adiwiganda dan Siahaan (1994), pemupukan kelapa  bertujuan menambah unsur-unsur hara yang kurang dipasok tanah, yang diperlukan untuk pertumbuhan vegetatif yang normal dan produksi buah yang optimal. Kebutuhan hara antara Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) dan Tanaman Menghasilkan (TM) tentunya berbeda. Pemupukan pada TBM bertujuan untuk pertumbuhan vegetatif, sedangkan pada TM bertujuan untuk memproduksi buah yang optimal.
Dosis pupuk ditentukan berdasarkan umur tanaman, jenis tanah, kondisi penutup tanah, kondisi visual tanaman. Waktu pemupukan ditentukan berdasarkan jadwal dan umur tanaman.  Pada waktu satu bulan, ZA ditebar dari pangkal batang hingga 30-40 cm. Setelah itu ZA, Rock Phosphate, MOP dan Kieserit ditaburkan merata hingga batas lebar tajuk. Boron ditebarkan diketiak pelepah daun.  ZA, MOP, Kieserite dapat diberikan dalam selang waktu yang berdekatan. Rock Phosphate tidak boleh dicampur dengan ZA. Rock Phosphate dianjurkan diberikan lebih dulu dibanding pupuk lainnya jika curah hujan > 60 mm. Jarak waktu pemberian Rock Phosphate dengan ZA minimal 2 minggu. (http://sawitkalbar.blogspot.com, 2008).
Rekomendasi pemupukan yang diberikan oleh lembaga penelitian selalu mengacu pada konsep 4T yaitu: tepat jenis, tepat dosis, tepat cara, dan tepat waktu pemupukan. Pemupukan yang efektif dan efisien dapat dicapai dengan memperhatikan beberapa hal yaitu: jenis dan dosis pupuk, cara pemberian pupuk, waktu pemupukan, tempat dan aplikasi serta pengawasan dalam pelaksanaan pemupukan (Poeloengan et al., 2003).
Pengendalian gulma merupakan aspek yang penting dalam pemeliharaan TM kelapa. Pengendalian gulma bertujuan mengurangi terjadinya kompetensi terhadap tanaman pokok, memudahkan pelaksanaan pemeliharaan dan mencegah berkembangnya hama penyakit tertentu. Menurut Muzik dalam Amarilis (2009) gulma dapat menyebabkan kehilangan hasil panen yang besar dari pada kehilangan hasil panen yang disebabkan oleh serangga maupun penyakit tanaman. Menurut Setyamidjaja (2006) jenis – jenis gulma yang tumbuh pada perkebunan kelapa  banyak macamnya. Secara garis besar jenis gulma yang dijumpai di perkebunan kelapa  dapat digolongkan menjadi dua yaitu gulma berbahaya dan gulma lunak.
Pada kebun kelapa TM gulma yang serung dijumpai adalah golongan rumputan (Imperata cylindrical L., Paspalum conjugatum Borg.), golongan berdaun lebar (Mikania micrantha H.B.K., Eupatorium odorata, Melastoma malabatricum, Mimosa sp Linn.), golongan pakis-pakisan (Nephrosia brassiliensis), dan golongan teki (Cyperus rotundus). Tanaman kelapa sangat sensitif terhadap persaingan dengan gulma terutama sampai umur 3-4 tahun. Persaingan dengan gulma dalam penyerapan air, unsur hara, cahaya dan ruang, serta adanya zat penghambat pertumbuhan yang dikeluarkan beberapa jenis gulma, menyebabkan pertumbuhan kelapa terhambat, menurunkan produksi, bahkan dapat menggagalkan pertanaman (Salman dan Wibowo, 1992).
Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti manual, mekanis, kimia dan kultur teknis. Cara pengendalian gulma secara mekanis meliputi : (1) clean weeding, pengendalian gulma secara keseluruhan pada areal pertanaman; (2) selecting weeding, pengendalian gulma pada sekitar tanaman saja (membuat piringan); (3) piringan digaruk dengan cangkul, rumput-rumputan dibuang kelur piringanstripe weeding, pengendalian gulma secara berjalur (Suhardiono, 1993).
Menurut Tjitrosidirjo  dalam Setyamidjaja (2006)  pengendalian gulma pada perkebunan kelapa  yang dilaksanakan secara terpadu, yaitu mengkombinasikan cara manual, kimia dan hayati dapat membawa hasil yang baik.






BAHAN DAN METODE
Bahan dan Alat
Bahan :
1.      Tanaman kelapa ( 3 tanaman per kelompok)
2.      Pupuk : urea, SP 18, dan KCL
Alat :
1.      Ember (1 buah)
2.      Cangkul (2 buah)
3.      Parang (2 buah)
Metode
            Metode yang digunakan pada praktikum ini adalah pemeliharaan dan pemupukan tanaman kelapa. pemeliharaan dilakukan dengan pembersihan gulma pada bokoran tanaman kelapa dengan radius 2 m. Pada pembersihan gulma ini menggunakan kriteria babat merah. Setelah itu, dilakukan peupukan dengan cara alur melingkar. Urea dialur dengan radius 0,5 m dari tanaman pokok, sedangkan KCL dan SP-18 dialur dengan radius 1 m dari tanaman pokok. Kemudian tutup dengan tanah agar tidak terjadi penguapan.
PEMBAHASAN
Hasil
Hasil kerja yang dilakukan oleh kelompok B1 untuk pemupukan 3 tanaman menghasilkan (TM) kelapa adalah selama 31 menit atau 0.52 jam. Perhitungan HOK : (catatan 1 HOK = 1 orang dengan 7 jam kerja) = 0.52 jam x 5 orang x (1 HOK / 7 jam) = 0.36 HOK. Populasi kelapa  dalam 1 hektar sekitar 138 tanaman. Perhitungan HOK untuk luasan 1 hektar tanaman kelapa  adalah (138 / 3) x 0.36 HOK = 16.56 HOK.

Pembahasan
Kegiatan praktikum yang dilakukan adalah pemeliharaan terhadap kelapa. Beberapa kegiatan yang dilakukan yaitu melakukan sanitasi tanaman, pengendalian gulma dan pemupukan pada 3 tanaman kelapa. Dalam sanitasi tanaman dan pengendalian gulma, kelapa dibersihkan dari gulma ataupun pelepah kering yang jatuh ke tanah. Pengendalian gulma dilakukan dengan membuat jari-jari 2 meter dari pokok tanaman. Membersihkan gulma dalam bokoran dilakukan dengan kondisi W0, yaitu daerah perkebunan dimana tidak diperbolehkan ada tanaman lain selain tanaman pokok. Sedangkan pada gawangan,  digunakan sistem “dibabat dempes” dengan ketinggian 20-30 cm atau “anak kayu” didongkel dengan kondisi W1 atau W2. W1 merupakan daerah perkebunan dimana pada areal tersebut selain tanaman pokok terdapat pula tanaman LCC (Legum Cover Crop) salah satunya Mucuna. Pada W2, areal yang boleh tumbuh adalah gulma lunak (Softweed) yang daya kompetisinya rendah sehingga tidak mengganggu tanaman pokok. 
Setelah dilakukan sanitasi tanaman dan pengendalian gulma, kegiatan berikutnya adalah pemupukan. Jenis pupuk ada dua yaitu pupuk tunggal dan majemuk. Pupuk tunggal, yaitu pupuk yang hanya mengandung satu jenis unsur hara saja, contohnya urea hanya mengandung hara nitrogen (N). Sedangkan pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung lebih dari satu jenis unsur hara, misalnya NPK, Nitrophoska, dan Rustika. Adapun jenis pupuk yang digunakan antara lain Urea, SP-18, dan KCl dengan dosis masing-masing 500 gram, 500 gram dan 500 gram per tanaman. Pada urea kandungan utamanya adalah Nitrogen (N) sebanyak 46%, pada SP-18 adalah P2O5 sebanyak 18% dan pada KCl kandungan utamanya adalah K sebanyak 45% dan Cl 20%. Urea diberikan secara alur pada radius 0,5 meter dari tanaman pokok, kemudian ditutup agar pupuk tidak menguap. Dalam pemberian,  pupuk urea tidak boleh dicampur dengan pupuk lain karena jika tidak langsung diaplikasikan maka pupuk akan menggumpal dan akan sulit diikat oleh tanah terutama sulit diserap oleh akar tanaman (http:id.shvoong.com).
Untuk aplikasi pupuk KCl dan SP-36 diberikan dengan cara dicampur terlebih dahulu kemudian disebar secara alur pada radius 1 meter dari tanaman pokok. Phylotaksi kelapa yang diamati adalah 2/5, yakni setiap dua kali putaran terdapat lima daun. Dalam kegiatan praktikum kali ini, 5 pekerja membutuhkan waktu 31 menit atau setara dengan 0,52 jam untuk menyelesaikan seluruh kegiatan tersebut. Sehingga HOK yang diperoleh adalah 0,36 yang berarti bahwa bagi satu orang pekerja membutuhkan waktu 1,44 jam kerja untuk menyelesaikannya.


PENUTUP
Kesimpulan
Praktikum pemeliharaan tanaman menghasilkan (TM) kelapa  yang dimulai dengan sanitasi tanaman atau pengendalian gulma hingga pemupukan membutuhkan waktu 0,52 jam dengan 5 pekerja, sehingga HOK yang didapat adalah 0,36. Pemeliharaan tanaman menghasilkan kelapa yang baik terutama pengendalian gulma dan pemupukan akan menghasilkan produktivitas yang tinggi.

Saran
Dalam melakukan praktikum pemeliharaan kelapa sebaiknya jangan mencangkul terlalu dalam ketika membersihkan gulma, karena akan melukai akar dari tanaman pokok tersebut.







\



DAFTAR PUSTAKA
Amarilis,S. 2009. Aspek Pengendalian Gulma di Perkebunan Sagu (Metroxylon spp.) PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu Selat Panjang, Riau. Skripsi. Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB.
Adiwiganda, R. dan M. M. Siahaan. 1994. Tanah dan Pemupukan Tanaman Kelapa Sawit. Lembaga Pendidikan Perkebunan. Kampus Meda. Medan. 68 hal.
Poeloengan, Z. M. L. Fadli, Winarna, S. Ruhutomo, dan E. S. Sutarta. 2003. Permasalahan Pemupukan pada Perkebunan Kelapa Sawit, hal 67-80.
Salman, F. dan H. Wibowo. 1992. Gulma pada Perkebunan Kelapa, p. 191-195. Dalam Lubis, Adlin U. et al (Eds.). Kelapa (Cocos nucifera, L.). Asosiasi Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Indonesia. Sumatera Utara.
Setyamidjaja, D. 2006. Kelapa Sawit, Teknik Budidaya, Panen, Pengolahan. Kanisius. Yogyakarta.
Suhardiono, L. 1993. Tanaman Kelapa. Kanisius. Yogyakarta
http://dinulislami.blogspot.com/2009/10/pemeliharaan-kebun-sawit.html [13 April 2011]
http://sawitkalbar.blogspot.com. 2008. Seluk beluk kelapa sawit [15 April 2011]